Hal ini membawa saya ke peristiwa 3 bulan lalu, ketika saya bertemu dengan seseorang yang kita sebut saja "S". Merupakan suatu kebetulan ketika saya pertama kalinya bertemu dengan orang itu. Kita sudah lama kenal, tetapi baru kali itu bertemu. Dimulai dari awal pertemuan di sebuah media sosial ketika orang tersebut menambahkan saya menjadi temannya. Dari situ kita hanya berbicara sedikit, memutar kembali mengenai kenangan ketika pertama kali berkenalan. Tak ada perasaan apa-apa dan semuanya baik-baik saja.
Hari pun berlanjut, obrolan pun dilanjutkan dan kita saling bertukar nomer telepon. Semenjak itu kami pun sering mengobrol akan segala hal, apapun itu. Bercanda hal-hal kecil, saling menjahili hingga berbicara serius mengenai filosofi dan prinsip hidup masing-masing. Ketertarikan pun muncul ketika hal-hal manis dan pujian mulai dilontarkan oleh "S". Namun, saya menganggapnya sebagai hal biasa karena mungkin saya sudah cukup kebal dan kata-kata manis yang saya pikir hanya gombalan belaka.
Sebuah teks masuk ke dalam handphone saya yang berisikan sebuah ajakan untuk bertemu. Saya gugup dan bingung harus menjawab apa, namun saya memberanikan diri untuk bertemu. Karena satu dan lain hal, saya tidak bisa meninggalkan rumah pada hari itu dan saya meminta dia untuk datang saja ke rumah saya untuk bertemu dan berbincang-bincang. Dia pun mengiyakan walaupun pada saat itu dia tidak mengetahui dimana rumah saya sebelumnya.
Waktu pun terus bergerak dan malam datang. Dengan cemas saya menunggu. Sebuah teks kembali masuk ke handphone saya, dia mengatakan sudah berada di komplek rumah saya namun bingung dimana letak rumah saya yang sebenarnya. Akhirnya saya pun keluar untuk memberikan tanda dimana letak rumah saya. Dan sebuah motor vespa berwarna oranye pun mendekat dari kejauhan. Samar-samar saya melihat sosok yang memakai helm vintage dengan muka sedikit bingung dan letih.
Malam itu menjadi malam ketika pertama kali saya melihat wajahnya secara langsung. Rasa gugup itu pun semakin menjadi. "Hey" begitu sapanya pada saya yang masih berantakan karena saya terburu untuk turun ke teras setelah mandi. Saya memulai percakapan dengan kalimat "Akhirnya ketemu juga ya setelah sekian lama. Ternyata bukan saya saja yang gugup, tetapi dia pun gugup, bisa terlihat dari cara bicaranya yang cepat dan beberapa kali mengatakan "Sorry-sorry bercanda, gue kalo becanda emang gini". Ketika saya tawarkan untuk masuk, dia pun menolak dengan alasan merasa tidak enak dengan penghuni rumah lainnya karena hari sudah malam. Kami pun melanjutkan pembicaraan di luar pagar rumah. Setelah beberapa saat kami mengobrol, dia pun pamit untuk pamit pulang ke rumah dikarenakan hari sudah mulai malam. Deru mesin motornya pun membawanya pergi menerobos hari yang sudah malam untuk pergi ke rumah.
Selepas dia pergi, saya terus memikirkan "S". Wajahnya berputar-putar di kepala saya dan obrolan yang kami obrolkan pun terus terulang di pikiran saya. Perasaan senang pun bercampur dengan rasa excited pun terus bergulir di hati. Mungkin terdengar berlebihan, namun sesuatu yang melebihi yang diharapkan datang dengan cara yang tidak dikira membuat malam itu begitu spesial. Saya pun kembali mengenang doa saya di akhir bulan Juni yang kurang lebihnya berisi "Tuhan, saya harap ketika saya telah menyelesaikan tugas akhir saya, pertemukan lah saya dengan seseorang yang benar-benar terbaik untuk saya dan mengeluarkan saya dari rasa kesepian yang selalu datang karena adanya sisi yang kosong di hati. Mungkin saya tidak tahu bagaiman cara dia datang ke kehidupan saya nanti, tetapi rahasia-Mu pasti akan menjadi kejutan manis untuk saya pada saat itu terjadi".
Kala itu, merupakan minggu terakhir saya mengerjakan skripsi dan bersiap untuk sidang. Dukungan dari teman-teman pun datang untuk menguatkan saya menjalani proses skripsi saya yang saya rasa cukup berat karena banyaknya halangan dan cobaan yang saya alami ketika menulis skripsi tersebut. Salah satu hal yang bisa membuat saya tersenyum ketika hari-hari berat yang saya jalani adalah obrolan suportif dengan "S". Mungkin obrolannya berupa obrolan yang ringan namun sedikit kata-kata yang menyemangati terasa menjadi suplemen tambahan bagi saya untuk terus maju.
Hari itu pun datang. Sidang skripsi yang selama ini saya tunggu pun datang. Dengan rasa takut dan penuh kecemasan pun saya hadapi. Tegang rasanya ketika harus berhadapan dengan dosen yang menjadi penguji skripsi saya dan mempertanggungjawabkan isi dari skripsi yang saya tulis. Waktu pun terasa cepat ketika banyak pertanyaan-pertanyaan yang bernada menyerang ditujukan pada saya oleh para dosen yang menguji. Dengan halus dan defensif saya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut selama sidang berlangsung. Dan selesailah sudah saat yang menyeramkan tersebut ketika sang dosen membacakan hasil dari skripsi saya dan menyatakan saya lulus menjalani sidang tersebut. Lega dan bahagia ketika saya mengetahui hal tersebut dan langsung saya bagikan berita bahagia tersebut kepada para sahabat saya yang telah menunggu di luar ruangan selama saya sidang dan turut bersuka cita akan kelulusan saya.
Saya raih tas yang saya titipkan kepada sahabat saya dan langsung mengambil handphone saya untuk mengabarkan berita ini kepada keluarga dan orang-orang terdekat saya. "S" menjadi orang pertama yang saya kabarkan mengenai berita ini. Ucapan selamat yang dia tuliskan menambah rasa kebahagiaan itu. Senyum merekah lebar ketika saya membaca tulisan tersebut. Dan tak disangka, dia menuliskan juga ucapan selamat tersebut di salah satu media sosial dengan men-tag nama saya. Senang rasanya ketika mengetahu hal tersebut.
Waktu demi waktu terus berjalan, kami pun semakin sering berbicara dengan satu sama lain. Berbagi cerita mengenai hari-hari yang dijalani, menanyakan hal-hal yang menjadi kesukaan satu sama lain dan berbicara mengenai pengalaman hidup yang telah dijalani selama ini. "Well said, Adorable Boy" begitu pujian yang sering ia lontarkan ditengah perbincangan kami. Saya pun menjawab "Saya begini bukan sebagai Adorable Boy, tetapi hal-hal berat yang telah saya jalani selama ini yang menjadikan saya menjadi lebih dewasa dan mungkin bijak dalam berpikir". Namun dia bersikeras dengan pujian tersebut dan saya pun hanya mengiyakan dan tersenyum atas pujian itu.
Dari berbagai percakapan yang telah kami lakukan, ada beberapa hal yang menarik perhatian saya dari sosok "S". Kepintarannya dalam berpikir, kebijaksanaan dia dalam memberikan solusi atas suatu masalah, kemantapan hatinya untuk memegang teguh prinsip yang dia telah dia tanamkan pada dirinya, Kelembutannya ketika memperlakukan orang, tanggung jawabnya mengenai pilihan yang ia jalani dan dia tahu apa yang dia inginkan dan ingin dia tuju. Nilai-nilai tersebut jarang saya temukan pada seseorang yang ada di sekitar saya. Dan saya menganggap itu adalah sebagai suatu emas yang berharga yang saya cari-cari selama ini.
Hari itu adalah hari Sabtu pertama di bulan puasa. Saya bingung harus kemana mencari buku sebagai tambahan untuk saya mengerjakan revisi akhir sebelum skripsi saya dikumpulkan kepada pihak kampus untuk diinventarisir. Saya pun menceritakan hal tersebut pada "S" dan saya ingin mencari buku yang saya cari ke Gramedia Matraman. Surprisingly, dia menawarkan untuk mengantarkan dan menemani saya mencari buku tersebut. Saya berpikir bahwa akan sangat panas udaranya dan membuat haus ketika harus berpergian siang ini untuk dia, namun dia tetap menawarkan bantuannya. Saya pun senang dan mengiyakan.
Jam menunjukan pukul 2 dan saya pun bergegas mandi, namun tanpa disangka ternyata "S" sudah datang di depan rumah saya. Saya pun berburu-buru untuk mengganti baju dan berlari keluar rumah untuk menemui dia. Tampak dia menunggu diatas motor vespa oranye-nya dan terlihat seperti merasa letih. Saya pun menghampiri dia, dan berkata "Maaf ya udah nunggu lama. Jadi kepanasan gini kamu. Maaf ya sekali lagi maaf". Dia pun menjawab "Oh gak kok ga apa-apa. Gue emang kecepetan aja soalnya jalanan ga macet". Hati ini rasa terenyuh ketika mengetahui hal tersebut. Lama saya tidak diperlakukan seperti itu dan ketika merasakan hal tersebut, saya merasa ada titik hati saya yang disentuh.
Kami pun berangkat menuju Gramedia Matraman dengan motor vespa oranye-nya. Saya pernah bilang padanya bahwa saya ingin sekali dibonceng dia diatas motor vespa tersebut. Menjadi hal yang menyenangkan bagi saya ketika pertama kali dibonceng olehnya dan saya tak berhenti tersenyum ketika naik diatas motor tersebut. Ketika sampai dia pun menemani saya mencari buku yang saya cari dan menunggui saya untuk mengantri di kasir. Dengan sabar dia menunggu saya ditengah antrian tersebut. Hal-hal kecil yang membuat dia terlihat spesial di mata saya dengan perlakuannya yang manis tersebut.
Setelah dari Gramedia tersebut kami pun memutuskan untuk menonton sambil menunggu berbuka puasa. Singkat cerita, kami pun telah selesai nonton dan berbuka puasa. Kami pun bingung harus kemana lagi, dan akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke sebuh coffee shop di Jakarta Selatan. Disana kami berbincang banyak mengenai diri masing-masing. Semakin terlihat bagaimana cerita dia yang keras dalam perjalanan hidupnya yang membentuk dia menjadi pribadi yang kuat dan tangguh namun dibalik semua itu dia mempunyai hati yang baik dan lembut.
Saya pun melemparkan beberapa pertanyaan retorikal kepadanya untuk melihat sedalam apa dia berpikir. Semakin dalam saya bertanya, semakin terlihat begitu pandainya dia dalam berpikir dan dewasa. Saat itu dia selalu berkata bahwa dia itu aneh dan berbeda dengan orang lain, hal itu yang dia anggap membuat dia sulit untuk terbuka dengan orang lain. Saya pun menganalisis cerita-cerita yang dia sampaikan. Andai dia tahu bahwa rasa aneh yang dia rasakan merupakan nilai yang saya cari selama ini dan membuatnya terlihat sangat beda untuk saya dibandingkan orang-orang lain yang kadang dangkal dalam berpikir. Kedalamannya dalam berpikir membuat saya semakin tertarik untuk masuk ke dalam dunianya yang sangat intriguing.
Semenjak itu kami sering berpergian bersama untuk menghabiskan akhir pekan kami. Sosok "S" yang lucu dan jahil yang membuat suasana selalu terasa hangat dan menyenangkan. Banyak hal yang kami lakukan bersama termasuk ketika dia saya ajak untuk berbelanja ta'jil ke Pasar Jajanan Benhil. Ternyata dia orang yang mau berbaur dengan segala lapisan masyarakat dan tidak segan untuk berjalan di tempat yang becek dan berkerumun dengan pengunjung lain yang ada di dalam pasar tersebut. Suatu poin tambahan yang membuat saya mengagumi dia.
Saya pun sempat diperkenalkan kepada teman-temannya. Kikuk dan canggung adalah perasaan saya pertama kali bertemu teman-temannya. Saya mengobservasi tingkah-tingkah lucu teman-temannya namun takut salah ucap ketika harus berinteraksi langsung. Dia tampak sangat senang berkumpul dengan teman-temannya dan itu yang membuat saya ikut senang. Berteman dengan orang-orang yang menyenangkan mungkin menjadi suatu kebahagiaan sendiri baginya.
Hari demi hari kita lewati bersama tanpa putus komunikasi. Walaupun kami sibuk satu sama lain namun kami terus menjaga komunikasi tersebut. Kami selalu berusaha mengerti kesibukan masing-masing dan mendukung hal-hal dan pekerjaan yang kami lakukan. Mempunyai sosok "S" yang sangat suportif dengan apa yang saya lakukan merupakan suatu berkah tersendiri untuk saya. Rasa nyaman pun tumbuh seiring dengan pengertiannya terhadap kelakuan saya yang terkadang kekanak-kanakan.
Kalender pun bergerak maju dan tak terasa sudah memasuki pertengahan bulan Agustus. Sebulan sudah kami mengenal dekat satu sama lain. Selama sebulan saya mengenalnya, saya semakin mengagumi sosoknya yang begitu mengemong dan pengertian. Caranya memperlakukan saya dengan spesial, kucuran perhatian yang tanpa henti, peluknya yang hangat dan canda tawanya yang selalu mencairkan suasana menimbulkan rasa sayang saya pada "S".
Ketika bertemu dan mengobrol, kami pun selalu bersenda gurau apa yang akan kami lakukan kedepannya. Beberapa rencana dan mimpi kami pikirkan untuk kedepannya dengan selingan canda dan tawa. Berada dalam peluknya dan menatap senyumnya merupakan hal yang sangat membahagiakan bagi saya. Terkadang, ketika kami berbicara satu sama lain mengenai suatu hal, kami akan bertatapan pada akhir pembicaraan dan tersenyum. Kami tahu apa yang dipikirkan & anggapan masing-masing mengenai hal tersebut tanpa harus mengeluarkan suara namun cukup melihat mata satu sama lain. Connected at heart, begitulah saya mendeskripsikan ikatan yang terbangun.
Tibalah suatu saat dimana saya memberanikan diri untuk bertanya mengenai kelanjutan dari hubungan saya dengan "S". Dia pun menjawab bahwa dia butuh waktu untuk hal ini. Merupakan salah saya ketika merasa kesal mengenai jawaban tersebut. Mungkin karena pikiran pendek saya waktu itu dan rasa sayang yang sudah terlanjur besar untuknya. Saya pun sedikit memberikan jarak ketika dia memberikan statement itu. Memang sangat kekanak-kanakan perbuatan tersebut, yang akhirnya sampai sekarang saya sesali.
Akhirnya sayapun mengakui kesalahan saya dan mencoba untuk kembali menjalin kedekatan dengan "S". Beberapa cara saya lakukan untuk meminta maaf mengenai hal yang sudah terjadi. Dia pun dengan bijak memberikan tanggapan bahwa dia jujur untuk mengatakan hal tersebut karena baginya rasa cinta itu merupakan anugrah dari yang diatas. Sebuah cinta datang tanpa harus diusahakan. Hal tersebut mungkin bertolak belakang dengan pemikiran saya bahwa cinta itu dibentuk dari waktu ke waktu seperti menanam suatu pohon yang semakin lama semakin besar dan kuat. Hal kompulsif saya pun saya akui salah. Mungkin saya begini karena saya tidak mau kehilangan sosok yang langka yang selama ini saya cari dan tidak ingin lepas dari dia.
Malam itu adalah malam terakhir saya di Jakarta sebelum saya berlibur ke suatu daerah. Saya memberanikan diri untuk menemuinya untuk pamit. Saya pun akhirnya menemui "S" malam itu. Tak hanya bertemu "S" namun saya juga menemui teman-temannya untuk berlebaran. Pada perjalanan pulang kami berbicara banyak mengenai apa yang sudah terjada beberapa waktu belakangan. Saya pun mengatakan bahwa saya ingin terus mencoba dengan alasan bahwa rasa cinta itu ada di hati saya. Perjalanan terasa sangat panjang dan dingin karena saya tidak ingin lepas darinya dekapnya dikala itu. Dia pun mengiyakan.
Masih panjang cerita yang ingin disampaikan namun terlalu sedih untuk saya ceritakan kembali. Kesedihan mendalam mengenai rasa kehilangan itu menjadi rasa yang saya rasakan setiap harinya. Rasa ingin selalu bersama, jika bisa selamanya. Kuatnya rasa cinta yang telah terbentuk di hati saya membuat saya berat untuk melepaskannya. Mungkin saya banyak salah dan mungkin hal ini yang membuat dia menyerah.
Dalam doa, setiap malam saya memohon agar kembali dipersatukan. Meminta kepada Tuhan untuk untuk menyampaikan rasa rindu saya pada "S". Jika boleh memohon pada Tuhan, mungkin menghabiskan hidup bersamanya akan menjadi hal yang paling membahagiakan untuk saya. Harapan itu masih sangat kuat dan akan selalu ada bersama doa-doa yang saya selalu tujukan pada Tuhan mesiki harus terucap dengan air mata. Saya percayakan kepada Tuhan untuk memberikan yg terbaik & harapan untuk sebuah keajaiban.
Andai dia tau..
"Di sendiriku, hati ini telah melukis cinta. Yang kuingini, yang saat ini ku tak tahu dimana.Dimanakah kau, cantik? Sesungguhnya aku kangen kamu. Dimana dirimu? Aku ngga ngerti. Dengarkanlah kau tetap terindah. Meski tak mungkin bersatu. Kau slalu ada di langkahku..." -[Kahitna - Engga Ngerti]
"Di sendiriku, hati ini telah melukis cinta. Yang kuingini, yang saat ini ku tak tahu dimana.Dimanakah kau, cantik? Sesungguhnya aku kangen kamu. Dimana dirimu? Aku ngga ngerti. Dengarkanlah kau tetap terindah. Meski tak mungkin bersatu. Kau slalu ada di langkahku..." -[Kahitna - Engga Ngerti]
No comments:
Post a Comment